DEMIROSAVANIA
BAB 1
Gustav mengambil tongkatnya dan mengarahkannya ke arah kandil yang tergantung di atas kepala mereka. Cahaya terang menyilaukan mata menyambar kandil kesayangan Castalova, istrinya. Kandil itu jatuh dengan perlahan sebelum menyentuh lantai marmer di ikuti suara yang menyakitkan telinga.
Ketegangan semakin menyelimuti seluruh aula. Gustav menatap ke seluruh penjuru aula dengan penuh amarah. Dewan dan para menteri menunduh dalam bisu, tidak sanggup menatap Sang Raja yang sedang dikuasai oleh amarah.
Gustav memperhatikan satu per satu mereka yang sekarang ketakutan dan ingin melarikan diri dari ruangan ini. Mistress Felly, kepala rumah sakit kerajaan, terlihat sedang mengamati ujung sepatunya yang lancip. Marien Brahe, Menteri Pertahanan, tidak bisa berhenti membetulkan posisi cincin kawinnya yang tidak bergerak sama sekali dari jari manisnya.
Belum sempat Gustav mengeluarkan suara dari mulutnya, Adam, anak si kepala pelayan kerajaan, masuk ke dalam aula tanpa mengetuk pintu dan tergesa-gesa. Wajahnya yang ramah terlihat panik dan sedikit ketakutan. Dia tidak menyapa mereka yang sedang duduk di meja rapat, termasuk ayahnya. Dia hanya berjalan lurus ke tempat Gustav berdiri.
“Maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia, tapi saya membutuhkan anda sekarang,” bisik Adam. “Ini perintah dari Castalova.”
Gustav meninggalkan aula di ikuti dewan dan para menteri yang berdiri dari kursi mereka dengan tergesa-gesa.
Adam berjalan lima langkah di belakang Sang Raja. Seperti yang selalu ayahnya katakan, tidak boleh berjalan terlalu dekat atau terlalu jauh dari anggota keluarga kerajaan. Dia benar-benar gugup karena harus mendapat perintah dari Castalova dan sekarang berjalan bersama Sang Raja tanpa pengawalan apapun. Sampai-sampai dia hampir mengingatkan Sang Raja soal kemana seharusnya mereka pergi sebelum teringat soal komunikasi yang rumit antara Sang Raja dan istrinya. Jadi, untuk menghilangkan perasaan gugup dan kikuknya, Adam hanya mengangguk pelan dan mengepalkan tangannya saat Sang Raja berjalan ke tempat yang seharusnya.
Gustav terus berjalan keluar dari kastil melintasi rumput yang berembun. Dia tidak peduli dengan sapaan para pengurus taman dan penjaga kastil. Dia tidak peduli dengan keindahan taman yang dibuat untuk menyenangkan sang istri. Bahkan dia tidak peduli lagi dengan kastil tempatnya memerintah kerajaan, dimana menar-menaranya yang menyentuh langit ke tujuh dibangun di setiap sudut kota, dan gedung bawah tanahnya yang menyimpan banyak sekali benda berkilauan berada jauh di bawah kota ini.
Kemudian Gustav mendapati dirinya sendiri sedang merenungkan apa yang terjadi selama musim semi kali ini. Baginya, semua itu bukanlah kebetulan. Di saat bunga Sakura mekar di hari pertama setelah salju terakhir mencair, dua lilin abadi di tanah suci meleleh, di ikuti kepala keamanan kerajaan, dan pasukan Pachphantum membelot darinya. Selang beberapa hari, istrinya semakin menjauh dari jangkauannya. Membuatnya semakin rapuh dan tidak karuan.
Gustav dan Adam berjalan melewati jembatan yang dibangun di atas jembatan Ladgerech. Mereka berdua tahu kemana mereka akan pergi. tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara.
Adam memutuskan untuk berhenti dan memutuskan untuk berdiri di salah satu pohon mawar yang tumbuh mengelilingi taman tersebut. Dia memperhatikan Sang Raja terus berjalan ke arah bangunan kecil yang menaungi sebuah peti besar dari marmer terbaik. Dari sini, dia bisa melihat dengan jelas Sang Raja. Tubuh tegap di balik jubah kebesarannya, rahangnya yang menonjol menegaskan ketampanannya, dan caranya berdiri tegak, menegaskan bahwa Sang Raja adalah penguasa dunia yang ditakuti sepanjang sejarah.
Tangan Gustav gemetar saat menyentuh permukaan tempat jasad putranya berbaring. Air matanya membasahi rumput yang menjadi alas peristirahatan terakhir anak kesayangannya.
“Apa yang akan kau lakukan jika aku benar-benar mempunyai anak selain dari istriku tercinta, Castalova?” gumam Gustav.
Adam membuka mulutnya. “Saya...saya tidak mengerti apa yang anda maksud, Yang Mulia.”
Gustav tahu bahwa dia membuat kesalahan yang tidak termaafkan oleh siapa pun. Dia sadar kalau rakyatnya dalam bahaya. Dia tahu kalau apa yang terjadi selama musim ini ada kaitannya dengan kesalahannya. Dan dia tahu kalau kesalahannyaadalah musuh abadinya.
Gustav menyeka air matanya. “Adam,” katanya dengan tegas. Dia menatap lurus ke anak kepala pelayan. “Aku butuh bantuanmu.”

Hem...
BalasHapus